Cara Baca Trend Harga Saham

Tulisan berikut ini semoga membantu mereka yang ingin membaca trend pergerakan harga saham (khususnya bagi para trader).

  1. Buka chart daily saham tertentu
  2. Setting chart untuk menampilkan MA 2, 5, 16, dan 58
  3. Perhatikan pergerakan keempat garis tersebut
  4. Bila MA 2, 5, dan 16 > 58, berarti trend jangka panjang naik
  5. Bila MA 2 dan 5 > 16, berarti trend jangka pendek naik
  6. Untuk pembelian saham, disarankan saat MA 5 menembus MA 16 dari bawah; harga jualnya bisa di atas MA 2

Semoga tulisan ini membantu. Isi di atas disadur dari postingan bu elwitabakrie di stockbit.

Advertisements

TA, FA, PER, EPS, Yield Explained

Tulisan ini bukanlah tulisan saya. Saya copy-paste ini dari tulisan user JS76115 di forum stockbit. Tulisan aslinya dapat anda baca di link ini.

Dari berbagai pertanyaan yang sering diajukan, masalah TA dan FA merupakan pertanyaan yang kerap ditanyakan kepada saya.

Untuk dapat memahami soal TA dan FA ini ada baiknya kita melupakan dulu metrik yang lain. Kita dekati permasalahan ini dengan hanya memakai metrik sederhana yang lazim dipakai, yaitu Price Earning Ratio atau PER.

Terdapat dua variable yang akan menentukan PE Ratio ini. Pertama P/Price, yakni Harga Saham (atau Market Cap jika kita menggunakan 100% kepemilikan saham). Variable kedua, E/Earning, atau Laba per saham, alias EPS (atau Net Profit, jika menghitung kepemilikan 100% saham perusahaan).

Dengan harga saham A sebesar Rp 1,500, dan EPS-nya Rp 100, maka PE Ratio perusahaan adalah 15X. Artinya dengan EPS saat ini sebesar Rp 100, mereka yang membeli saham itu pada harga Rp 1,500, perlu waktu 15 tahun untuk mengembalikan investasinya. Kumpulkan Rp 100/tahun selama 15 tahun, maka Anda akan mendapat kembali dana awal Anda, Rp 1,500.

Dengan memahami angka PE Ratio ini, maka tentulah kecenderungan kita adalah untuk membeli perusahaan yang memiliki PER rendah. Semakin rendah PE Ratio, akan semakin cepat juga untuk laba perusahaan itu mengembalikan investasi awal. Jika PE Ratio itu 5, maka hanya dalam 5 tahun, dana investasi kembali. Jika EPS di tahun-tahun mendatang meningkat, maka akan lebih cepat juga pengembalian dana investasi itu. Inilah juga alasannya mengapa perusahaan yang secara konsisten EPS-nya meningkat, sering dihargai dengan PER yang tinggi. Begitu juga sebaliknya.

Dengan kemampuan perusahaan meningkatkan EPS, maka EPS yang semakin lama semakin besar itu akan bisa “catch-up” terhadap angka PER yang tinggi itu. Jika di tahun 2012 kita menjadi pemegang saham Facebook dengan harga sekitar USD 20, harga itu kita bayar dengan PER lebih dari 2,000. Tidak ada satupun investor yang memiliki akal sehat yang mau menunggu 2,000 tahun untuk dapat mengembalikan investasinya. Harga setinggi itu dibayar untuk pertumbuhannya.

Facebook/FB merupakan salah satu contoh capital-efficient company dengan wide-moat. Kemampuan pertumbuhannya, dapat mendorong revenue-nya yang “hanya” USD 5.09 Milyar di tahun 2012, menjadi USD 40.65 Milyar di tahun 2017. EPS-nya yang hanya sekitar USD 0.01 pada tahun 2012, meningkat menjadi USD 5.39 di tahun 2017.

Bagaimana kita bisa melihat apakah sebuah perusahaan memiliki karakter capital-efficient companies?

Jika perusahaan mencatat peningkatan penjualan, maka kenaikan penjualan dari capital efficient companies ini tidak harus diikuti dengan persentase kenaikan yang sama besarnya dalam biaya perusahaan (Soal ini sebetulnya sudah dibahas saat membahas $ULTJ). Dengan demikian, ada delta yang bisa langsung berpengaruh atas bottom-line perusahaan. Dalam hal FB, kenaikan ratusan persen di dalam penjualan mampu menghasilkan ribuan persen kenaikan dalam EPS-nya. Ketika kita sampai di tahun 2017, maka saham yang dibayar dengan harga USD 20 itu hanya setara dengan PE Ratio kurang dari 4X (USD 20 dibagi EPS, USD 5.39).

Pasar tentu tidak hanya akan terus menggunakan PER 4X untuk perusahaan yang memiliki pertumbuhan EPS seperti ini. Harga FB sekarang bukan lagi USD 20, tetapi sudah meningkat menjadi USD 180. Contoh kasus FB, bisa dipakai untuk menjelaskan mengapa PER dari $UNVR cs, selalu relatif tinggi.

Fenomena inilah yang mendorong investor memakai metrik PEG Ratio, untuk dapat menilai perusahaan dengan pertumbuhan tinggi. Apabila ada sebuah perusahaan tahun ini dibeli dengan PER 30X, tetapi EPS perusahaan itu tumbuh sebesar 60%, harga itu akan setara PER 18.75 di tahun depan. Oleh karenanya, angan abaikan kesempatan, apabila Anda dapat menemukan sebuah perusahaan yang mencatat pertumbuhan konsisten, tetapi masih dihargai dengan PE Ratio yang sama dengan no-growth companies.

Mari kita kembali ke soal PE Ratio.

Apabila angka PE ini dibalik (inverse), dimana E, sebagai pembilang, berada di atas, dan P di bawah, sebagai pembagi, maka menghasilkan apa yang disebut sebagai yield : Rp 100 (E, yakni EPS) dibagi dengan Rp. 1,500 (P, Harga), menghasilkan yield 6.67%. Yield sebesar 6.67% iniliah yang didapatkan oleh para pemegang saham yang membeli saham perusahaan A dengan harga Rp 1,500. Dengan yield sebesar 6.67% ini, maka diperlukan waktu selama 15 tahun untuk mendapatkan kembali 100% nilai investasi kita (15 dikalikan 6.67% adalah 100%).

Jika kita menempatkan dana deposito di Bank, maka bunga deposito menjadi yield kita. Jadi jika Bank memberikan suku bunga deposito 6%, maka yield untuk mereka yang menempatkan dananya dalam bentuk deposito adalah 6% ini.

Berapa tahunkah waktu yang dibutuhkan, agar suku bunga deposito ini mampu buat mengembalikan pokok deposito kita? Maka tinggal dibalik saja, 100 dibagi dengan 6, yaitu sekitar 16.7 tahun. Dalam bahasa investasi saham, PER-nya 16.7 X

Apa yang lantas bisa kita pahami dari kedua variable yang menentukan PE Ratio ini? Karakter yang segera tampak adalah, adanya fakta bahwa P dan E ini bergerak dalam derap langkah serta waktu (pace) yang berbeda. Keduanya juga terjadi dalam suatu lingkungan berlainan.

Nilai E ini bergerak sesuai dengan irama serta derap waktu normal perusahaan dalam menghasilkan jasa atau produk yang dijual kepada konsumennya. Sebuah kegiatan usaha tidak bisa dituntut untuk bisa meningkatkan nilai penjualan dan meningkatkan laba (EPS)-nya dengan persentase kenaikan yang tinggi, hanya dalam hitungan hari, bulan atau kwartalan saja. Terdapat sebuah proses yang harus selalu dijalani dalam menghasilkan sebuah produk atau jasa. It takes time.

Itupun jika perusahaan sudah menjalankan kegiatan usahanya dalam periode yang cukup lama. Apalagi jika perusahaan masih relatif baru, atau dalam pre-production stage. Apabila perusahaan itu bergerak di bidang pertambangan, serta masih di tahap explorasi, masalah yang harus ditangani juga tentu lebih beragam. Dibutuhkan waktu 5 tahun atau lebih, dari mulai disusunnya FS sampai ke tahap awal produksi.

Mereka yang pernah bekerja, atau memiliki perusahaan, niscaya bisa menceritakan fenomena tentang siklus normal dari sebuah kegiatan usaha. Meskipun rentang waktu siklus normal kegiatan sebuah usaha dapat berbeda satu sama lainnya, tetapi proses yang harus dilewati, apalagi yang bisa mengubah angka-angka penjualan (maupun tingkat keuntungannya) memerlukan waktu yang cukup panjang.

Dalam siklus usaha normal perusahaan, peningkatan 5%-10% angka-angka penjualan, bukan hal yang bisa dilakukan dalam hitungan hari, atau minggu. Ketika sebuah perusahaan menghadapi masalah terkait pinjamannya, perlu waktu yang panjang untuk melakukan negosiasi dengan krediturnya. Skema penyelesaian pinjaman itu, mungkin baru bisa rampung dalam hitungan bulan, bisa juga tahun. Bukan hari.

Apabila sebuah Bank menghadapi masalah kredit macet, maka Bank itu memerlukan waktu yang cukup untuk menyelamatkan kredit itu, agar masalahnya tidak langsung menghantam bottom-line-nya.

Jika ada satu capital-efficient company yang memiliki program untuk meningkatkan efisiensi biaya. Perencanaan, pengenalan, aplikasi dan pengaruhnya terhadap perbaikan Gross Margin maupun bottom-line, pasti membutuhkan waktu. Hitungan bulan, atau tahun. Bukan hari.

Pada sisi lain, P, yang merupakan variable lainnya di dalam PE Ratio, memiliki nasib berbeda. Variable P ini “dipaksa” untuk harus selalu bergerak setiap saatnya. Ada ladang lain, di luar perusahaan, dimana dengan jadwal tetap, dari jam 9 sampai jam 4 sore, P terpaksa harus bergerak, atau digerakan. Ada ritual rutin yang harus dijalani oleh P ini setiap harinya.

Meskipun by definition PE Ratio itu adalah P dibagi E, tetapi karena E ini bergerak dalam derap yang jauh lebih lamban dari P, maka untuk mereka yang perhatiannya terfokus pada pembilang (P, alias harga), tentu tidak bisa selalu mengandalkan pembagi (E, alias EPS) sebagai referensi mereka di dalam melakukan “aktivitasnya”.

Dengan “tidak berfungsinya” faktor pembagi (E) dalam derap waktu yang demikian cepat itu, maka tentu saja harus dicari referensi lain. Dalam kevakuman variable E, karena E memang tidak bisa berubah-ubah secepat derap waktu yang dituntut P, maka munculah berbagai referensi lain yang berkaitan dengan ritual harian P ini. Fenomena dan pusat perhatian kepada gerakan P (dalam kondisi kevakuman E) inilah yang menjadi pusat perhatian TA.

Jika ada yang berpendapat bahwa apa yang dilakukan TA tersebut mustahil untuk mendapatkan keuntungan, hal itu lebih karena orang yang menyatakan itu tidak tahu apa yang dikatakannya.

Tentu saja, para pemakai TA – sama seperti yang menggunakan FA – memiliki kesempatan untuk mendapatkan keuntungan melalui cara-cara yang dilakukannya. Sebaliknya juga, mereka yang memakai FA – seperti pemakai TA – bisa salah, dan menghasilkan kerugian. Namun jelas, keduanya memiliki cara pandang berlainan. Bahkan saya sering membaca analisa dari mereka yang mengatas-namakan value investing. Namun dari apa yang disampaikannya, saya bisa meyakini bahwa hal paling dasar dari value investing saja mereka tidak paham.

Saya mengetahui ada seorang anak muda, yang fokusnya melakukan trading di NYSE dan Nasdaq, dengan hanya menggunakan TA. Saya tidak bisa menyampaikan apa yang dilakukan anak muda ini, karena metoda itu merupakan proprietary system-nya. Time-frame-nya sangat pendek, 2-3 minggu, meskipun ada juga yang setahun. Faktanya, sekarang ini dia sudah menjadi Millionaire (dengan satuan Dollar). Dia mendapatkan semua itu hanya melalui trading, dengan metoda TA-nya.

Contoh lain, mungkin Anda juga sudah sering mendengar nama John Simons. Simons merupakan pendiri dari Renaissance Technologies, yang menjadi salah-satu hedge fund terkemuka, yang didirikannya di tahun 1982. AUM-nya saat ini, USD 84 Milyar. Meskipun namanya dia tidaklah sepopuler Buffett, tetapi kinerja fund-nya di dalam periode 1994-2014, dengan average annual return sebesar 71.8%, merupakan salah-satu hedge fund dengan kinerja terbaik dalam dunia investasi.

Renaissance Technologies ini didominasi oleh PhD : ahli matematika, ahli statistik dan ahli fisika, serta apa yang disebut signal processing experts. Singkat kata, mereka para ahli non-keuangan. Atas alasan ini, mereka juga pernah dijuluki math geniuses running Wall Street.

Ada sekitar 300 PhD yang bekerja di RT ini. Salah satu orang yang pertama-kali dipekerjakan Simons adalah Leonard Baum, yang juga dikenal sebagai salah satu penemu Baum-Welch algorithm. Melalui sejumlah model matematika serta computer-driven trading, mereka bisa membuktikan keunggulan kinerjanya. Bukan pendekatan value.

Dengan menceritakan contoh di atas, perbedaan cara pandang tidak serta-merta menjadikan apa yang tidak kita kerjakan tidak akan bisa memberikan hasil yang baik. Pasar modal terlalu besar, untuk hanya bisa didominasi oleh sebuah pandangan saja. Apalagi dengan adanya perbedaan derap waktu dari kedua variable, P dan E tersebut.

Mereka yang menjadikan TA sebagai akar panduan dalam melakukan aktivitas, lebih memfokuskan perhatiannya pada P, sambil menunggu waktu datangnya E. Karena memang pergerakan E ini membutuhkan waktu yang lebih lama dari pergerakan yang biasanya terjadi dengan P. Perubahan yang ditunjukan dalam kenaikan angka Sales atau Laba sebesar 10%, mungkin memerlukan waktu 1 tahun atau lebih. Tetapi naik
atau turunnya P sebesar 10% bisa terjadi dalam 1 atau 2 hari, atau dalam hitungan jam. Bahkan untuk kenaikan atau penurunan lebih dari 10%.

Dengan konstruksi perdagangan di bursa yang “memaksa” variable P untuk bergerak setiap saat (bahkan dalam kondisi kevakuman faktor E), TA memusatkan perhatiannya kepada pergerakan P dalam satuan waktu yang relatif pendek. Oleh karena pusat perhatian TA itu lebih pada pergerakan P yang sangat dinamis. Apabila hal ini berlangsung pada saat E sedang jedah, maka dibutuhkan berbagai perangkat lain untuk dapat mengukur, dan menebak arah bergeraknya P ini.

Perangkat maupun indikator lainnya ini memang dibutuhkan, untuk sementara menggantikan E ini. Berbeda dengan P, kehadiran E tidak bisa setiap hari. Ada time lag yang cukup panjang, antara kehadiran E yang terjadwal, dengan pertunjukan P yang harus terjadi setiap saat.

Ada yang menggunakan algorithma dan matematika seperti mungkin dilakukan oleh Renaissance Technologies. Ada pula yang memakai system lain, seperti yang dikembangkan anak muda di atas. Bahkan jika kita lihat sejumlah peralatan di dalam TA ini, berbagai indikator tersedia : Arnoud L, Aroon, Awesome Oscillator, Bollinger Bands, Chaikin Money Flow, Chande Kroll Stop, EMA Cross, MACD, MA with EMA Cross, Klinger Oscillator, RSI, Stochastic, SMA dan sebagainya.

Dengan derap langkah waktu berbeda dari P dan E ini, peralatan dan indikator dalam TA tersebut menjadi lebih relevan bagi mereka yang horison waktu “investasi”-nya (or so-called trading) relatif pendek. Dalam jangka panjang, kita tahu, variable E akan tetap jadi penentu. Tidak ada pilihan lain.

Ketika E datang pada saatnya, dengan derap waktu-nya yang normal, maka P itu akan kembali menyesuaikan diri sesuai rumusan baku PE Ratio. Jika P ini bergerak secara berlebihan ke atas – ketika E belum hadir – dia lantas akan melakukan koreksi ke bawah. Sebaliknya, jika dalam kevakukman variable E ini, angka P itu merosot berlebihan ke bawah, kedatangan E ini akan menariknya balik kembali ke atas.

Itulah sebabnya, dalam jangka pendek, dengan beragam faktor yang lantas perlu digunakan sebagai indikator, pergerakan P bisa menjadi lebih sensitif terhadap informasi, suasana batin, kondisi makro dan hal lainnya, yang tidak harus selalu berhubungan dengan perusahaan itu sendiri (Hal ini misalnya dapat dilihat, pada saat berbagai media bisnis tanpa hentinya membahas soal penurunan index Dow Jones, yang dengan mudah menghubungkannya dengan koreksi di IHSG).

Bagi mereka yang memiliki kemampuan untuk menangkap gerakan serta perubahan yang berlangsung terus menerus serta terjadi dalam satuan waktu yang pendek ini, terbuka peluang untuk mendapatkan keuntungan juga. Jadi tidak benar kalau kemudian dikatakan, bahwa mereka yang menggunakan TA pasti ruginya, dan sebaliknya mereka yang menggunakan FA pasti untungnya. Hanya perlu dicatat, bahwa masing-masing harus memahami apa yang dilakukannya.

Bloomberg atau CNBC, tidak pernah kehilangan bahan dan selalu siap dengan berbagai informasi yang bisa disebarkannya. Perubahan suku bunga, pergantian pemerintah, harga minyak, perubahan tarif pajak, kerjasama antar negara, cadangan devisa maupun pertumbuhan GNP – dalam kondisi hampa E – bisa dengan mudah menjadi pemicu dan penggerak P. It’s all information-driven. Berbagai informasi tersebut berebutan datang, dan menjadi faktor yang mendorong kemana arah harga akan bergerak.

Bagaimana dengan FA?. Jika kita kembali ke rumusan PE Ratio adalah P dibagi dengan E, maka untuk mereka yang menjadikan FA sebagai pedoman investasinya, E ini lantas menjadi pusat perhatiannya.

Kalaupun ada yang harus ditekankan soal apa yang membedakan TA dengan FA, maka prioritas serta fokus perhatian mereka itulah yang membedakannya. Oleh karena dari sejak awal telah dipahami, bahwa untuk mencapai pertumbuhan E secara normal, memang diperlukan waktu, maka mereka yang memilih FA dituntut untuk memiliki time- horison yang relatif panjang. Time-horison yang panjang ini memang menjadi sebuah kenormalan. Ini merupakan pilihan yang dari sejak awal sudah harus disadarinya betul. Jika demikian halnya, apakah hal itu dapat diartikan bahwa mereka benar-benar tidak memperdulikan P, yang menjadi pembilang dalam rumusan itu?. Tentu saja tidak.

Mereka mendahulukan keperluan untuk memahami bagaimana E ini akan terbentuk. Setelah mengetahui hal itu, serta mencatat di buku hariannya, dengan berbagai alasannya, mereka sesekali tentu melihat P juga. Mereka tidak pernah khawatir bahwa P ini tidak akan datang. Mereka tahu, lepas dari dilihat atau tidak dilihat oleh mereka, P ini akan hadir setiap harinya. Mereka hanya sekedar menunggu, apakah dengan E yang catatannya sudah dalam buku harian mereka, P yang hadir pada hari itu sudah sesuai dengan perhitungannya, atau tidak. Jika tidak, mereka akan membiarkan saja P itu lewat. Namun ketika P datang dalam suasana serta lingkungan yang penuh keputus-asaan, biasanya ketika itulah mereka akan mendapatkan P yang lebih baik, sesuai dengan E yang sudah tersimpan rapi dalam catatan hariannya.

Oleh karenanya, bisa dimengerti apabila cara pandang keduanya juga berbeda, meskipun yang mereka lihat adalah pasar yang sama.

Bagi mereka yang fokus perhatiannya untuk menebak ke arah mana P akan bergerak, yakni tentang naik atau turunnya P dalam jangka pendek, terjadinya penurunan P akan dipandangnya sebagai sebuah kabar buruk. Menjadi satu kerugian yang harus segera dihadapinya. Bukankah tujuan utamanya pada saat membeli sebuah saham, adalah berharap agar P saham itu bisa naik dalam waktu yang tidak lama?. Dengan demikian, jika pasar menunjukan hal yang sebaliknya, maka tentu bagi dia terjadilah apa yang disebutnya kerugian.

Namun mereka yang memusatkan perhatiannya kepada E, apa yang terjadi dengan P, apalagi dalam jangka pendek, bukan sesuatu yang membuatnya gelisah. Bahkan bisa jadi sebaliknya. Bukankah dengan E yang tetap, jika P itu turun, maka safety margin menjadi lebih tinggi dan yield akan semakin besar?

Jika untuk mendapatkan EPS sebesar Rp 100, seperti contoh di atas, dengan harga saham Rp 1,500, maka yield Anda adalah 6.67%. Namun apabila harga itu kemudian turun menjadi Rp 1,200, maka yield itu justru meningkat, 8.3% (Rp 100 dibagi dengan Rp 1,200). Tentu saja kita akan lebih memilih kondisi yang memberikan peluang untuk bisa mendapatkan yield 8.3% dibanding dengan 6.67%. Oleh karena itu, selama elemen E itu tidak terganggu, gangguan yang terjadi pada P tidak pernah dianggap sebagai sebuah musibah. Malahan bisa jadi dimanfaatkan sebagai opportunity.

Seperti contoh di atas tentang Facebook, bahwa yang pada akhirnya menentukan kenaikan harga Facebook/FB:US dari sekitar USD 20 di tahun 2012, menjadi USD 180 sekarang, bukan karena hal lain, tetapi karena selama periode itu penjualan dan EPS Facebook meningkat. Apabila terjadi koreksi pasar yang besar, yang membuat harga FB ini turun seperti harga di tahun 2012, tentunya kita akan dengan senang hati menyambutnya.

Anda bisa menggantikan emiten Facebook ini dengan berbagai nama lainnya. Kita dapat segera melihat fakta yang sama, dan sudah teruji, bahwa dalam jangka panjang (dimana derap waktu antara variable P dan E tidak lagi memiliki time-lag), kedua variable itu akan berjalan seirama. Jika E bergerak ke atas, kondisi ini akan diikuti dengan P yang juga meningkat ke atas. Tidak ada cara lainnya. Namun dalam jangka pendek? Siapa yang tahu?. Bahkan sebelumnya juga ketika berbicara soal kenaikan IHSG dari 398 (1998) menjadi 6,500 sekarang ini, kita menyaksikan bahwasanya perjalanan kenaikan IHSG di dalam periode 20 tahun itu, disertai juga dengan adanya drawdown setiap 4-5 tahun sekali. Masa-masa saat P tidak bergerak seirama E.

Fakta yang tergambar jelas ini, tentu telah dipahami oleh mereka yang menjadikan investasinya di pasar modal, sebagai cara untuk memiliki berbagai perusahaan yang baik. Memiliki perusahaan ini menjadi kata kunci buat mereka, dengan memandang kepemilikan saham sebagai kepemilikan mereka atas (sebagian) interest dari satu kegiatan usaha. Tetapi mereka juga paham, bahwa pasar modal juga memberikan peluang bagi mereka yang memandangnya dengan cara lain. Hanya saja, karena ketidak-pahamannya atau mungkin karena risiko yang diketahuinya, dia tidak ikut berpartisipasi dengan metoda yang lain itu.

Buat mereka yang menyenangi permainan golf, mungkin dapat lebih memahami perumpamaan berikut ini. Ada 18 holes yang harus dapat diselesaikan oleh mereka yang bermain di lapangan golf. Setiap holes memiliki tantangannya masing-masing, dengan sejumlah aturannya.

Hanya hasil akhir setelah 18 holes itu diselesaikan, yang menjadikan kita dapat mengukur keberhasilan dari setiap pemain. Tentunya akan aneh, jika kehebatan satu pemain di satu hole (dan yang 17 holes-nya lagi tidak diselesaikan) bisa dibandingkan dengan mereka yang main untuk keseluruhan 18 holes. Namun apakah hal itu bisa menghalangi mereka yang melakukan taruhan dengan teman mainnya untuk hole-hole tertentu saja?.

Mereka yang sudah mengikrarkan dirinya untuk bermain golf paham, bahwa dibutuhkan waktu yang cukup agar dia bisa menyelesaikan keseluruhan 18 holes itu. But, then again, sangat memungkinkan buat pemain-pemain itu, di hole-hole tertentu, misalnya bertaruh untuk jauh-jauhan pukulan driver-nya. Atau untuk dekat-dekatan memukul bola ke green. Untuk hole itu, yang menjadi ukuran adalah siapa yang paling jauh pukulan driver-nya. Atau siapa yang dapat paling dekat memukul bola ke bendera di green. Tetapi bagi mereka yang berhasil memukul driver paling jauh di hole itu, tidak dengan sendirinya bisa menjadi pemenang dan yang paling berhasil ketika keseluruhan 18 holes itu selesai dimainkan. Kedua hal itu memiliki cara perhitungan dan ukuran keberhasilannya sendiri-sendiri.

Untuk mereka yang melakukan permainan golf sampai usai 18 holes, dengan time-frame tertentu, tidak bedanya dengan mereka yang saat berinvestasi di pasar modal memerlukan waktu cukup, agar kinerja perusahaan itu (E-nya) bisa tercermin dengan baik dalam score-card yang dimiliknya. Tidak permainan hole by hole dalam waktu pendek.

Saya memilih untuk dapat menyelesaikan permainan 18 holes, sebab hanya dengan cara menyelesaikan 18 holes itu, barulah saya dapat mengatakan bahwa saya bermain golf. Meskipun memakai peralatan yang sama, tetapi apabila saya hanya fokus dalam satuan waktu yang pendek bertarung jauh-jauhan, serta menebak apakah pukulan yang dilakukan itu akan dapat mencapai green atau tidak pada satu hole tertentu saja, tidak bisa saya katakan bahwa saya sedang melakukan permainan golf. Saya tidak tahu, apa nama permainan itu.

Agar saya bisa berhasil menyelesaikan permainan itu, ada minimum waktu yang saya butuhkan. Saya harus mempelajari untuk hole 1 ini, misalnya, dimana letak bunker-nya, apakah ada hazard lain berupa air atau jurang. Apakah sebaiknya saya pakai iron 7 atau bisa dengan kayu #3? Tidak ubahnya pada saat saya melihat perusahaan, apakah terdapat potensi permasalahan (bunker), karena perusahaan itu saat ini memiliki hutang cukup besar. Ataukah saya bisa memakai driver saja, karena di depan tidak ada rintangan sama sekali. Dan demikian seterusnya. Semua rangkaian itu dilakukan dalam rangka upaya saya untuk menyelesaikan secara tuntas 18 holes, yang disebut sebagai permainan golf. Cara lain di luar itu, tidak dapat disebut golf.

Dengan cara pandang seperti ini, makanya saya termasuk yang agak takjub, ketika banyak orang mempertentangkan FA dan TA. Selama ini, kalaupun ada yang dipertentangkan adalah soal value-investing dengan growth-investing (yang juga salah kaprah).

Dengan demikian, apapun pilihan Anda, hendaknya dipahami bahwa terdapat prioritas, time-horison dan cara pandang yang berbeda dari pendekatan TA dan FA ini. Bagaimana mungkin mempertentangkan TA dengan FA? Sementara kedua hal ini tidak berbicara soal binatang yang sama.

Apapun pilihan yang dipakai, apakah TA atau FA, mereka yang tidak paham tentang apa yang dilakukannya, akan menjadi yang pertama-tama bingung dan panik, apabila yang terjadi di pasar tidak sesuai denga apa yang diperkirakannya. Jika hal ini terjadi, maka biasanya mereka melakukan hal yang berlawanan dengan apa yang sebetulnya harus mereka lakukan di dalam kondisi seperti itu. Usahakanlah agar Anda tidak menjadi bagian dari kelompok seperti ini.

Cara Baca Pergerakan Harga Saham (Jangka Pendek)

Untuk bisa memahami tulisan berikut, pastikan Anda sudah familiar dengan chart (dan settingannya). Kemudian untuk membaca trend pergerakan harga saham untuk jangka pendek adalah sebagai berikut:

kalau SMA 2+5 di atas 16, maka area Buy 5-16.

kalau SMA 2+5 di bawah 16, maka area buy bawah 2nya.

semoga membantu untuk bisa memahami pergerakan harga saham. tulisan ini diambil dari postingan bu elwitabakrie di stockbit.

Cara Investasi Saham

Dikutip dari tulisan Elwitabakrie di stockbit.

Itulah Cara Berinvestasi Saham YG BENAR lihat Chart + garis sma 2, 5, 16 & 58 ….Ketemu….Tanam….Tunggu ….Panen….Kelola….Panen….Kelola….Panen….Kelola….Panen…
Saatnya Trend Turun 2+5+16 dr atas sudah tembus ke bawah 58 saatnya GOODBYE ….suatu saat nanti masuk lagi.

Market Cap dan Enterprise Value

Buat mereka yang ingin investasi saham ada baiknya untuk membaca tulisan berikut (saya ambil dari tulisan JS76115 di stockbit)
JS76115 7 Nov 17, 19:28 · Edited on 7 Nov 17, 20:02
$IHSG MARKET CAP DAN ENTERPRISE VALUE (1)

Catatan ini merupakan kelanjutan dari catatan saya sebelumnya yang khusus berkaitan dengan sejumlah pengertian elementer dalam berinvestasi https://stockbit.com/post/1375328.

Namun sebelum kita melanjutkan, ada baiknya kita ulangi apa yang sudah dibahas dan disimpulkan pada catatan itu :

1. Harga saham tidak dengan sendirinya bisa menunjukan apakah sebuah perusahaan lebih mahal atau lebih murah dibanding perusahaan lainnya. Perusahaan dengan harga saham Rp 500, belum tentu lebih murah dibanding perusahaan yang harganya Rp 2,000. Gudang Garam dengan harga saham Rp 76,000 tidak dengan sendirinya menjadikan GGRM sebagai perusahaan lebih mahal dibandingkan HM Sampoerna yang diperdagangkan di bursa dengan harga saham Rp 4,000. Ada variable lainnya yang harus diperhitungkan, yaitu jumlah lembaran sahamnya.

2. Market Cap merupakan harga pasar (Market Value) yang harus dibayarkan jika Anda berniat membeli perusahaan 100%. Nilai itu tidak lain dari jumlah saham perusahaan dikalikan dengan harga saham yang berlaku. Memakai contoh di atas, Market Cap $GGRM tercatat sebesar Rp 146 Trilyun. Sementara itu, $HMSPmeskipun harga sahamnya di bawah GGRM, memiliki Market Cap yang lebih tinggi dari GGRM, yaitu Rp 460 Trilyun.

3. Market Cap sebuah perusahaan tidak dengan sendirinya dapat dipakai sebagai ukuran untuk menilai mahal atau murah-nya perusahaan itu, dengan cara membandingkannya atas Market Cap perusahaan lainnya. $BJTM yang Market Cap-nya tercatat sebesar Rp 10.5 Trilyun tidak dengan sendirinya dapat disebut lebih mahal dibandingkan $AGRO, yang Market Cap-nya lebih kecil (Rp 8.8 Trilyun). Ada variable lain yang harus dimasukan sehingga dapat memberi perbandingan yang lebih tepat, yaitu dengan memasukan komponen laba.

4. Dengan Market Cap AGRO Rp 8.8 Trilyun, serta labanya sekitar Rp 123 Milyar (TTM), maka AGRO diperdagangkan dengan PER sebesar 71 X. BJTM yang memiliki Market Cap lebih tinggi dari AGRO, yaitu sebesar Rp 10.5 Trilyun, menghasilkan laba (TTM) sebesar Rp 1.2 Trilyun. Dengan demikian, maka BJTM sekarang ini diperdagangkan dengan PER 8.75 X. Oleh karena itu, meski Market Cap BJTM lebih tinggi dibanding Market Cap-nya AGRO, BJTM sebagai perusahaan lebih murah dibandingkan AGRO.

Mudah-mudahan dengan mengulang lagi apa yang sudah dijelaskan di Bagian I soal Market Cap dan EV ini, pemahaman Anda dapat lebih jelas. Dengan demikian, kita dapat menjawab pertanyaan yang ditulis dalam alinea penutup dari catatan sebelumnya. Saya kutip kembali alinea terakhirnya di bawah ini :

Melalui pemahaman di atas, dan Anda tahu bahwa angka PER ini bisa dijadikan referensi dalam menilai murah-mahalnya perusahaan, mari kita naikan sedikit pemahaman kita.

Apabila demikian halnya, jika ada dua perusahaan yang memiliki PER yang sama, katakanlah 10 X, berarti kedua perusahaan itu tidak ada bedanya dong, begitu mungkin pertanyaan Anda selanjutnya. Sama-sama murahnya, atau sama-sama mahalnya. Demikian pula, apabila ada satu perusahaan (A) memiliki PER 20 X, sementara satunya lagi, perusahaan ( PER-nya 10 X, dan kedua-duanya bergerak di bidang industri yang sama, maka kita bisa mengatakan bahwa A lebih mahal dibandingkan B. Kesimpulan logis seperti ini boleh jadi merupakan kesimpulan Anda juga.

Apakah kesimpulan seperti itu benar? Mari kita lihat, dan untuk bisa membantunya, kita akan memakai sejumlah contoh angka. Dalam hal ini, kita akan memasukan komponen EBIT (Earning Before Interest and Taxes). Angka EBIT dipakai, untuk menunjukan kondisi identik dari kedua perusahaan. Dimana kedua-duanya mampu menghasilkan EBIT yang sama (Nilai penjualan yang sama mendapatkan EBIT yang sama).

Perusahaan A

Penjualan 1,000,000
EBIT 100,000
Hutang 0
Bunga Pinjaman 0
Biaya Bunga 0
Laba SebelumPajak 100,000
Pajak (40 40,000
Laba Bersih 60,000

Market Cap 600,000
PER 10X

Perusahaan B

Penjualan 1,000,000
EBIT 100,000
Hutang 500,000
Bunga Pinjaman 10%
Biaya Bunga 50,000
Laba SebelumPajak 50,000
Pajak (40 20,000
Laba Bersih 30,000

Market Cap 100,000
PER 3.3 X

Perhatikan baik-baik angka-angka di atas, dimana kedua perusahaan memiliki kemampuan yang sama dalam menghasilkan nilai penjualan maupun mencapai EBIT-nya.

Kembali ke pertanyaan di atas, apabila kita menggunakan pedoman PER, dan pasar memberikan Market Cap sebesar 600,000 kepada A, yang memiliki laba bersih 60,000, maka kita tahu bahwa A memiliki PER sebesar 10X. Untuk B, dengan Market Cap sebesar 100,000 dan laba bersih 30,000, maka kita tahu bahwa PER perusahaan B adalah 3.3 X. Apakah ini berarti A (dengan PER 10 lebih mahal dibanding dengan B yang PER-nya hanya 3.3 X?

Sekali lagi, dengan menggunakan pedoman PER, tentu saja kita akan langsung membenarkan jawaban itu. Kita akan menegaskan bahwa A dengan PER 10 X lebih memang lebih mahal dibandingkan harga B, karena B bisa dibeli dengan PER yang lebih kecil, yaitu 3.3X.

Namun, justru karena alasan ini juga saya lebih menyukai pemakaian Enterprise Value dibandingkan dengan Market Cap dan Price Earning Ratio/PER. Mengapa? Karena perhitungan Market Cap mengabaikan komponen hutang (dan kas) di dalam Neraca Perusahaan.

Mari kita ambil contoh jika kita mau membeli rumah. Pemilik rumah mengatakan, kita boleh mendapatkan rumahnya dengan membayar Rp 1 Milyar. Dia juga memberitahu, bahwa masih terdapat pinjaman Rp 500 Juta yang melekat pada rumah itu. Jika rumah dibeli, maka pinjaman beralih kepada pembeli. Kita tentu sepakat, bahwa untuk si pembeli, harga rumah itu adalah Rp 1.5 Milyar, bukan Rp 1 Milyar.
Komponen hutang dan kas inilah yang tidak diperhitungkan apabila kita menggunakan pedoman Market Cap dan PER pada saat menilai harga sebuah perusahaan. Padahal sama dengan contoh rumah tadi, pada saat kita mengambil-alih sebuah perusahaan, maka hutang dari perusahaan itu menjadi beban pembeli. Sebaliknya uang yang berada dalam saldo Bank akan menjadi hak si pembeli.

Inilah inti dari Enterprise Value. Enterprise Value didapatkan dengan menambahkan hutang dan mengurangkan saldo kas terhadap Market Cap sebuah perusahaan. Itulah sebabnya saya sangat senang apabila menemukan emiten yang memiliki saldo kas, dan tidak mempunyai hutang (kalaupun memiliki hutang, nilainya lebih kecil dibandingkan saldo kas-nya). Jika kita menemukan perusahaan seperti ini, artinya harga yang kita bayarkan untuk membeli perusahaan itu sebenarnya lebih rendah dari Market Cap-nya. Dengan penyesuaian seperti ini, maka saya menemukan perusahaan seperti $ADMG$WIIM$RANC$ULTJ$INCI$TSPC dan semacamnya (DYOR), yang mungkin tidak akan terjaring apabila saya menggunakan formula PER atau kriteria stock-screener-nya tidak dilakukan penyesuaian.

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, mari kita kembali ke contoh perusahaan A dan B di atas. Apabila kita memakai formula PER, maka dengan cepat kita akan mengatakan bahwa B, yang PER-nya 3.3 X sudah pasti harganya lebih murah dibandingkan dengan A, yang PER-nya 10 X.

Dalam realita bisnis, hal itu terbukti tidak benar. Jika kita mengambil-alih perusahaan A dengan membayar 600,000 (Market Cap-nya), kita memiliki perusahaan dengan EBIT 100,000. Karena perusahaan tidak ada hutang (dan kas), maka nilai EV sama dengan Market Cap-nya. Sebaliknya, apabila kita mengambil-alih perusahaan B dengan harga 100,000 (Market Cap-nya), maka kita juga akan memiliki perusahaan dengan EBIT 100,000. Namun, oleh karena perusahaan B ini memiliki hutang sebesar 500,000, maka harga yang sebenarnya kita bayarkan, yaitu EV, adalah 600,000 juga. Itulah harga real yang sebenarnya kita tanggung untuk mendapatkan perusahaan yang EBIT-nya 600,000, karena sekarang kita harus menanggung hutang yang 500,000 itu.

Dari gambaran di atas, maka jelas bahwa dengan memakai formula EV, atau Enterprise Value, baik perusahaan A maupun perusahaan B, memiliki harga yang sama, yaitu 600,000. Oleh karena EBIT kedua perusahaan ini sama, 100,000, maka pilihan itu buat kita sama saja. Tidak ada yang lebih murah atau lebih mahal.

Sebaliknya, jika kita menggunakan PER, akan tampak kesan bahwa perusahaan B, dengan PER-nya hanya 3.3 X, menunjukan harga yang lebih murah dibandingkan dengan perusahaan A, yang PER-nya 10X. In reality, that is not the case. Itulah sebabnya, sekali lagi, saya lebih menyukai pendekatan EV, karena EV mencerminkan realiatas bisnis saat kita mengambil-alih perusahaan sebagai sebuah bisnis.

Dengan menggunakan formula EV, angka EBIT yang dipakai sebagai earning (hasil) untuk dibandingkan dengan EV-nya (nilai investasi). Dalam contoh A dan B di atas, masing-masing menghasilkan return atau yield yang sama (100,000 dibagi 600,000). Sementara apabila kita menggunakan formula PER, maka angka laba (EPS) yang dipakai sebagai earning (hasil) untuk dibandingkan dengan Market Cap-nya (harga saham).

Mudah-mudahan hal ini bisa memberikan penjelasan untuk mereka yang masih menanyakan soal EV dan Market Cap ini.

Nyemplung Dunia Search Engine Optimization

Beberapa waktu lalu saya punya keinginan untuk masuk ke dalam dunia affiliate marketing. Sayangnya, sampai detik tulisan ini disiapkan, masih belum ada kemajuan berarti. Proyek tersebut tertunda, tapi tidak terlupakan.

Proyek yang saat ini sedang saya persiapkan, sedikit banyak terkait dengan affiliate marketing. Ini tentang search engine optimization atau SEO. Dunia SEO adalah dunia yang menggiurkan, tapi gampang-gampang susah untuk dipelajari. Kata orang, SEO ini termasuk dalam kategori learn-as-you-go alias belajar sambil jalan. Buat bisa memahaminya mesti melakukannya.

Tulisan ini akan saya update di kemudian hari, seiring dengan bertambahnya ilmu yang saya dapatkan. Semoga bisa berguna satu saat nanti. Siapa tahu aja bisa jadi sumber penghasilan.