di bawah teror (13)

ternyata waktu gw ketemu ma temen itu, demamnya da makin parah. usut punya usut, dia sebenarnya udah 2 minggu sebelum itu didiagnosa menderita penyakit tifus. udah disuruh dokter buat istirahat sebulan, dia ga mau. jadi dah hari itu dia terkapar dan istirahat total selama empat hari.

hari senin minggu berikutnya …

lagi-lagi gw dapat sms dari si adi. sekitar jam setengah 7 pagi dia bilang, “mas saya ada kabar baru. menakutkan mas. saya kemarin malam sempat ngobrol dengan anak buah ibu itu, katanya rencana mereka berubah mas. mereka ga hanya mau menghancurkan masa depan pacar mas, tapi juga menghilangkan nyawanya. saya mengatakan sama dia sebelum berbuat sesuatu berpikirlah lebih dahulu. ingat keluarga.”

“terus waktu kamu bilang gitu, dia bilang apa?”

“ga usah sok suci. hari gini semua butuh uang.”

“hmm .. trus mereka mau pakai cara apa?”

“rasanya ga mungkin pakai cara gelap mas. tapi saya rasa dengan fisik. dulu rencana pertama mereka hanya menghancurkan. sekarang ditambah dengan menghilangkan nyawa. berarti main fisik! apa yang mesti mas v lakukan?”

“buat sekarang ga ada sih. tapi makasih buat infonya.”

sesudah gw pikir-pikir, hal ini makin serius aja nih. mungkin waktunya buat lapor polisi nih. tanya mereka tindakan apa aja yang bisa dilakukan.

agak siangan dikit, pergilah gw ke kantor polisi. di tempat jaga para polisi gw tanya, “pak, permisi, kalau mau melaporkan kemungkinan adanya tindak kejahatan di mana yah?”

“oh, masuk ke gedung yang ada di sebelah sana itu, mas” kata polisi muda tersebut sambil menunjuk ke arah gedung bercat putih yang ada sekitar 15 meter jauhnya.

“terima kasih, pak.” lantas gw jalan masuk ke gedung tersebut. di dalam kebetulan ada seorang polisi yang sedang menangani laporan dari dua orang perempuan yang kelihatannya kehilangan dompet mereka di jalan. waktu perhatian gw sedang tertuju ke situ, tiba-tiba ada seorang bapak polisi yang menyapa, “mas, ada keperluan apa?”

“oh ini pak, saya mau melaporkan informasi soal adanya kemungkinan terjadi tindak kejahatan.”

“oh kalau begitu silakan ikut saya.” sambil dia melangkah ke sisi lain gedung yang berukuran tidak kurang dari 10 meter x 8 meter itu.

sampai di tempat tersebut, gw disuruh untuk duduk dan menceritakan singkat apa yang terjadi. maka gw ceritakanlah semua yang terjadi mulai dari awal adanya teror sampai informasi terakhir yang gw dapat soal adanya kemungkinan pembunuhan tersebut. sesudah selesai cerita semua, bapak perwira polisi tersebut lantas menghubungi mereka yang berada di unit reskrim untuk datang dan mendengarkan cerita gw tersebut. dia lumayan serius menanggapinya, secara tidak lama berselang ada seorang mahasiswa dari universitas di wilayah kerjanya yang ditemukan mati dengan kondisi yang mengenaskan.

sesudah dua orang dari unit reskrim tersebut datang, gw mulai lagi cerita gw dari awal. dan sesudah ada tanya jawab beberapa kali, akhirnya salah satu dari mereka, pak Abdul namanya, bilang, “kalau gitu mas, teman anda itu jangan boleh pergi sendiri. kalau bisa selalu ada teman yang menemani. hindari tempat-tempat sepi!! dan kalau misalnya ada apa-apa terjadi, misalnya ada yang mengikuti begitu, segera telfon 112. nanti agen kami yang terdekat akan segera meluncur ke tempat tersebut. sampai agen kami datang, usahakan untuk tetap berada di keramaian.”

“ah, begitu. terima kasih, pak.” dalam hati gw bilang, udah tahu juga sih kalau itu. tapi ya sudah, paling ga gw tahu tindakan preventif yang selama ini gw bilang ke temen gw itu dah benar berarti. ga lama, gw pun segera meninggalkan kantor polisi itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s