di bawah teror (9)

“jadi gini tan, sebenarnya yang terjadi itu adalah ini …” secara singkat gw jelasin apa yang udah terjadi selama dua minggu itu, termasuk mengenai adanya ancaman pemerkosaan dan pembunuhan terhadap teman gw itu.

waktu gw sedang cerita di bagian di mana temen cewe gw itu dibuntuti oleh suruhan ibu-ibu itu, om gw bilang, “dulu om juga pernah gitu ma papamu. waktu itu papamu sedang diteror orang juga. terus om dan beberapa teman membuntuti orang-orang yang meneror papamu, ternyata anak kampus juga.”

“ah. gitu yah, om. sayang juga dalam kasus ini ga bisa dibuntuti balik. mereka datang dan pergi begitu saja, dan lagi selama ini mereka cuma kirim-kirim sms aja. jadi susah juga kalau mau mengikuti mereka.”

“sebenarnya v, ini bisa jadi ulah dari temannya temanmu itu loh. sekarang gini, kamu tahu semua ini dari siapa?”

“dari temanku itu sih ‘n ada orang yang kasih info soal apa rencana ibu-ibu itu.”

“nah. kamu dah pernah ketemu orang yang kasih info itu?”

“belum sih, cuma sms aja. tapi sejauh ini informasi yang dia berikan valid.”

om gw cuma tersenyum simpul aja waktu gw bilang gitu. gw lanjutin aja dengan bilang “yah, segala kemungkinan memang ada sih. bisa jadi ini cuma ulah satu orang aja, yang pingin membuat kekacauan dalam hidupku ma temenku itu. tapi, daripada terjadi apa-apa, kan mending jaga-jaga. apalagi ini menyangkut urusan masa depan seseorang, yang kalau benar, ga ada kaitannya apa-apa dengan masalah ini.”

“iya sih, v” tante gw menimpali, “kasihan juga dia, jadi ikut-ikut terkena imbas dari hal yang ga terkait dengannya.”

hening sejenak di area meja makan tempat kami berdiskusi bertiga. “omong-omong mana dia?” tanya tante.

“tidur di atas tuh tante. kelihatannya KO habis kena perjalanan panjang. kami besok rencana siang-siang pulang. ga lama soalnya dia da mesti ada di asrama sebelum jam 10 malam.”

“ah gitu. ya udah, tante tidur dulu yah, pagi nanti ada doa pagi soalnya. nanti kalau temanmu bisa dibangunin, suruh makan yah. masih ada bakso nih”

“ok tante. aku coba nanti.”

dan tiba-tiba gw sendiri di situ. om gw dan balik ke kantornya, sementara tante langsung menuju kamar tidurnya. setelah berpikir tentang apa yang om gw bilang soalnya kemungkinan bahwa pelaku dari teror ini adalah teman dari teman gw itu, gw naik ke atas, lihat kondisi teman gw.

“ooh dah bangun toh?” waktu gw lihat dia sedang membaca pesan singkat di hpnya.

“iya. aku mesti ada di gereja besok sore jam 5 nih. gimana donk?”

“hmmm … koq tiba-tiba gitu? emang kamu pergi ke sini belum diketahui orang kantor?”

“udah sih. harusnya juga ga pa pa. tapi, ga tahu kenapa nih koq tiba-tiba disuruh ada di sana jam 5. gimana donk?”

“kalau gitu, kita cabut dari sini sekitar jam 9 atau 10 deh besok.”

“gitu yah?”

“heeh. udah, sekarang turun dulu yuk. tante dah siapin bakso buat kamu tuh.”

“ah kebetulan, dah lapar nih. yuk yuk.”

sesudah makan malam, kami berdua menuju kamar kami masing-masing dan menikmati tidur malam hari itu tanpa ada gangguan apapun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s