di bawah teror (8)

perjalanan tersebut ternyata lebih cepat dari dugaan gw. gw perkirakan, perjalanan tersebut bakal membutuhkan waktu sekitar lima jam. tapi ternyata kami sampai di tempat tujuan hanya dalam waktu empat jam. hujan sempat turun dalam perjalanan yang banyak kami habiskan dalam kondisi tidur tersebut. gw dah sempat senang karena sebelum masuk kota hujan sudah reda, meski awan hitam masih menggelayuti langit.

sesudah turun dari bis, kami berdua sepakat untuk jalan ke rumah keluarga gw itu. sialnya, di tengah-tengah jalan hujan!!! duh!!! “yuk cepet dikit yuk, kita ke indomaret aja dulu.” gw bilang. kebetulan indomaret tersebut udah dekat dengan rumah. sial, bukannya makin reda, hujannya malah makin lebat. mana angin badai serasa tak ingin ketinggalan berpesta hari itu.

“v, dah di mana v?” tante gw sms.

“dah di indomaret, tan. tapi kena hujan nih. jadi ga bisa jalan.”

ga berapa lama sesudah gw kirim sms tersebut dan selesai belanja di indomaret, gw lihat adik sepupu gw jalan di tengah badai itu sambil bawa payung, sambil tersenyum simpul melihat gw dan teman gw berteduh di bawah atap indomaret. “makasih yah. disuruh sapa? tante?” gw bilang waktu dia kasih payungnya yang lain.

“iya, mas.” tanpa menunggu kami, dia langsung cabut, ga pakai menoleh ke belakang lagi.

“yuks, kita jalan” gw bilang. sialnya lagi. baru 10 meter jalan, hujan dan angin makin kenceng aja. terpaksalah kami menepi lagi di pelataran sebuah toko di seberang indomaret.

“duh dingin juga” dia bilang.

“iya nih, mana anginnya ikut-ikutan gini. dah kayak badai tropis aja.” kami berdua pun makin mendekat karena hujan yang turun makin deras. tak lama, kami akhirnya memutuskan buat menembus badai itu. gara-garanya, tempat kami berteduh tadi juga sudah mulai kebanjiran. air dah mulai meninggi. jadi ga ada gunanya juga berteduh di situ.

pelan-pelan akhirnya sampai juga kami di rumah tante gw. dia sebenarnya tinggal di pastori gereja bersama dengan om dan oma gw. “tante, makasih buat payungnya ya” gw bilang begitu ketemu dia. sesudah “ritual” cipiki-cipika, kami pun segera masuk ke dalam pastori.

ga lama sesudah sedikit bercengkerama, gw bantuin om-om dan tante-tante buat mendorong air keluar dari pastori. sesudah hujan reda, selesai membersihkan pastori, dan mandi gw pun segera bercengkerama dengan keluarga gw di sana, sambil sedikit menceritakan apa alasan gw membawa teman gw tersebut dan apa yang sedang terjadi sebenarnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s