di bawah teror (5)

sesudah gw selesai sms informan gw itu, gw kirim pesan singkat ke teman gw, “besok pagi kita ketemu yah. habis kamu selesai pelayanan. ada yang mesti kita bicarain. jam berapa kamu selesai pelayanan? sementara ini, ati-ati yah. usahain jangan pergi sendiri, apalagi di tempat yang sepi. terutama kalau kamu mau ngajar di SD 5. jarak dari jalan ke SD kan lumayan jauh dan sepi tuh.”

“jam 9. besok aku pelayanan di dekat wilayah bareng.”

“gitu yah. kalau gitu ketemu di depan pecel kawi aja.”

“iyah…,”

besok paginya gw dah bangun pagi-pagi. gw merasa ga enak aja. ini menyangkut masa depan seseorang yang gw tahu ga bersalah dan ga terkait apa-apa. cepat-cepat gw mandi dan menyiapkan diri untuk pertemuan dengan teman gw itu. jam setengah 9 gw dah cabut dari rumah, naik angkot menuju ke tempat kami janjian.

gw datang 15 menit lebih awal dari rencana. jeda waktu yang cukup buat gw untuk melihat area, jaga-jaga kalau ada yang mencurigakan. pecel kawi tampak ramai diserbu orang yang ingin sarapan pecel. gw berdiri di pojokan pertigaan, di mana dengan mudah gw dapat melihat situasi jalan di sekitar tempat pertemuan kami. ga ada yang aneh.

ga berapa lama, teman gw pun muncul.

“gimana pelayanannya, lancar?”

“iyah”

“gimana, kamu mau makan apa? pecel?”

“hmm” menggelengkan kepala tanda tak setuju dia.

“kamu lapar?”

“ngga” dengan raut muka yang mengiyakan kalimat pendeknya.

“ya udah, kita nongkrong di KFC aja kalau gitu yah? ga usah makan berat. ngopi aja dulu.”

“yuks”

berjalanlah kami berdua ke KFC yang persis berada di seberang jalan tempat gw menunggunya. sesudah memesan kopi dan duduk di tempat yang mendukung untuk berbincang hal seberat itu, gw mulai bercerita.

“jadi semalam aku dapat sms dari anak buah ibu-ibu itu.”

“oh ya? dia bilang apa?”

“dia bilang kalau dia ga mau jadi kaki tangan setan. jadi dia memberitahukan apa rencana ibu-ibu itu.”

“ooh?” ujarnya penasaran

“jadi gini …” dengan ringkas gw menceritakan bagaimana asal-muasal kontak gw dengan informan gw itu (belakangan gw tanya namanya sapa, atau nama samaran gw bilang, dia jawab adi). gw tunjukkan sms dari si adi ttg rencana mereka.

“hmmh…” gumamannya menunjukkan tanda setengah percaya tidak percaya, tapi dari raut mukanya gw bisa lihat kalau dia khawatir juga akan hal ini. wajar lah, secara dia adalah perempuan yang terancam kehilangan sesuatu yang masih dijunjung tinggi di negeri timur. apalagi dengan cara yang seperti itu.

“yah sekarang berarti kita cuma bisa ambil tindakan preventif aja. kalau bisa kamu jangan pergi-pergi sendiri. apalagi mereka udah ngikutin kamu beberapa hari gitu.”

“iyah..hmm” raut mukanya tampak berpikir serius.

kami berdua lantas melanjutkan pembicaraan kami dengan obrolan-obrolan ringan. gw berusaha sebisa mungkin membuat dia tertawa, dan dalam usaha gw untuk membuatnya ketawa, kami sampai kembali ke jaman perang salib.

“eh tahu ga, waktu jaman perang salib dulu, istri-istri mereka yang pergi ke medan tempur itu mengenakan pakaian dalam khusus loh. dibuat dari logam gitu dan ada kuncinya. yang pegang kunci si suami yang pergi berperang. jaga-jaga biar istrinya ga selingkuh. hehehe … apa kita butuh cari yang seperti itu yah?”

“hahahaha” tawanya lepas, sambil mencubit lengan gw dan tersipu malu

obrolan kami pun lantas berkembang mengenai gereja, pelayanan, dan hal-hal terkait dengan itu. tak lama, kami berpisah. gw anterin dia ambil angkot buat ke asramanya. setelah gw lihat situasi aman dan tak nampak ada orang yang telah mengamati kami, gw pun meneruskan perjalanan hari itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s